20170423_090018

I Don’t Have a Healthy Life

I don’t have a healthy life.

That’s a fact.

Beberapa hari ini banyak baca artikel tentang gaya hidup sehat. Yang akhirnya bikin gue mikirin gaya hidup gue sendiri. Dan Felicia. Kalo dihayati, kayaknya memang gaya hidup kami nggak sehat deh.

Memang sih selain baca dari artikel, udah banyak orang-orang terdekat gue yang mengadopsi gaya hidup sehat. Tapi biasanya itu dimulai setelah kena penyakit tertentu. Mereka mulai tidak makan gula dan karbo. Ada yang olahraga rutin. Diet vegan. Diet non gluten dan non kasein. Mengganti nasi putih dengan nasi coklat atau hitam. Rutin liburan (biar nggak stres dong). Minum macam-macam multivitamin, dari yang murah sampai yang mihil ala MLM. Minum jamu herbal. Dan sebagainya.

Dan mereka konsisten. Itu yang bikin gue kagum. Memang perubahan ke arah yang baik nggak akan ada efeknya kalo nggak konsisten.

Kembali ke gaya hidup gue. Inilah beberapa kebodohan gue selama ini yang gue duga kelak bakalan nampol muka gue, maksudnya melalui tagihan dokter atau rumah sakit. Na’udzubillah min dzalik. Tapi ada baiknya su’udzon dulu dengan gaya hidup sendiri, dengan maksud kelak gue bisa memperbaikinya. Gue breakdown aja biar jelas:

1 Nggak doyan sayur dan buah.
Akibatnya Fel nggak mau makan buah sama sekali. Tapi kalau sayur sih dia suka. Guka suka buah kalau ada yang ngupasin atau ngeblenderin dan menghidangkannya di muka gue. Kalo nggak, males bo ngupas dan ngejusnya.

2 Nggak pernah olahraga lagi sejak hamil.
Kalo dulu semasa single dan pas baru nikah, beuuuuhh itu seminggu sekali gue lari 5KM plus tambah berenang berkilo-kilometer. Sekarang? Malesnyooo.

3 Doyan berat nasi putih.
Meski kami nggak banyak ngemil dan snacking (yang mengandung pewarna, gula, MSG, pengawet), tapi konsumsi nasi kami above average. Si Fel umur 6 tahun tapi porsi makan (nasinya) udah sama kayak bapaknya, dan itu dimakan 3x dalam sehari. Gue sih makan 2x aja dalam sehari, jam 11.00 dan 17.00, tapi subhanallah itu jumlah biji nasinya kalo diitung-itung sama aja kayak 3x makan.

4 Makan junkfood dan frozen food.
Memang sih kalo beneran dicatat dan diamati, konsumsinya masih dalan batas wajar. Sehari-hari kami lebih sering makan masakan Indonesia yang terdiri dari nasi, lauk pauk, dan sayur mayur–terima kasih banyak atas kebaikan hatimu Bu Kumis, mmuaccchh I love you! Tapi kadang kami juga makan di resto junkfood dan kalo lagi males ngapa-ngapain ya gue goreng sosis, nugget, dan semacamnya buat dikonsumsi. Kalo lagi beruntung, kami bisa beli makanan beku dari kenalan yang bikin sendiri, tapi kalo mereka lagi nggak bikin ya gue beli di supermarket.

5 Minum susu.
Silakan ketawa–minum susu dibilang nggak sehat?? Padahal orang tua kita bilang susu itu WAJIB hukumnya untuk pertumbuhan. Yeeee itu mah pola pikir zaman Orde Baru. Sekarang mah udah Orde Entah Apalah. Banyak penelitian yang sudah membuktikan bahwa susu sapi itu isinya hormon melulu, hormon yang diberikan ke si sapi perah, yang kalau masuk ke tubuh manusia jadi berakibat tidak baik. Sapi dikasih susu sama ibu sapi hanya saat dia masih kecil. Pas udah besar, yaudah deh disuruh merumput. Cuma manusia aja yang sampai besar masih mengkonsumsi susu mamalia lain. Kalo dibayangin sih manusia konyol juga ya. Susu, dan produk turunannya, seharusnya jadi makanan rekreasional aja. Yang dikonsumsi buat hiburan, misalnya di pesta atau di tempat hiburan. Contohnya: lagi ke rumah sodara trus ditawarin mac and cheese, lagi ke Puncak trus beli yoghurt, atau lagi ke ultah temen trus ada susu kotak di dessert table-nya. Susu bukan untuk dikonsumsi setiap hari. Nah, gue masih bego karena selalu beli susu UHT tiap belanja, jadi anak gue tiap hari di rumah paling nggak konsumsi susu 200ml–kalo dia ingat dan kepengen, kalo nggak sih nggak gue tawarin.

6 Nggak banyak beraktivitas di luar ruangan, dan terekspos sinar matahari.
Mmm entah ini termasuk sehat atau nggak… Yang jelas kami sehari-hari tinggal di rumah yang tertutup, tapi udaranya sejuk dan hanya pakai kipas angin saja–itu kalo inget dinyalain. Kalau tidur malam hari baru pake AC. Ke mana-mana naik mobil ber-AC. Weekend lebih sering ke tempat yang juga ber-AC. Sekolah Fel ber-AC. Paling kami 1-2-3 bulan sekali deh weekend di tempat outdoor, itu juga maksimal 3 jam di sana.

Nah, confirmed kan kalau kami hidupnya kurang sehat?

Meskipun begitu, ini beberapa poin penyeimbang pola hidup gue… yang setidaknya bisa membuat gue bersyukur:

1 Gue jarang sakit.
Alhamdulillah. Batuk pilek biasanya cuma 2 -3 hari, terus hilang secepat dia datang. Diare juga maksimal sehari doang, meski bisa sampai belasan kali ke toilet. Nggak pernah sakit berat dan opname di RS. Kapan itu Fel kena demam dengue tapi trombositnya nggak terlalu drop, jadi rawat jalan aja–meski selama 4 hari berturut-turut harus tes darah di RS.

2 Gue dan Fel nggak minum obat.
Obat yang biasa gue konsumsi cuma obat pusing, karena kalo mau mens pasti gue migren parah. Kami nggak minum obat batuk, pilek, radang, diare, maag, dan lain-lain. Karena Fel punya asma, kalau kumat dia disemprot pake Ventolin inhaler, tapi nggak ada obat asma yang diminum. Gue cuma konsumsi habatussauda aja dua butir tiap malam sebelum tidur.

3 Banyak gerak.
Sebagai emak rumah tangga pastinya yaaa gue jarang duduk. Apalagi udah lima tahun kami nggak pake pembantu. Jadi gue nginem di rumah tiap hari. Semoga energi yang gue abisin jumpalitan nyapu, ngepel, jemur pakaian, nyetrika, masak, cuci piring, bersihin tiga kamar mandi, dan nyuci mobil bisa dianggap sebagai olahraga. Fel juga anak kinestetik yang selalu bergerak. Meski di dalam ruangan ya tetap aja dia lari-lari, loncat, nari, role playing di depan kaca, nyanyi sambil joged, bahkan nonton TV aja dia sering sambil berdiri dan gerak-gerak. Di sekolah dia juga lari-larian tiap pagi sebelum mulai kelas, saat break lunch, dan sebelum pulang. Dua-tiga kali seminggu kami power walking di mall, yang mana kadang kalo lagi niat bisa lima jam di mall, tapi biasanya sih maksimal tiga jam lah.

4 Gue minum air putih minimal tiga liter tiap hari.
Kebiasaan ini udah bertahun-tahun gue lakukan, sampai nggak ingat persisnya udah berapa lama. Empat atau lima tahunlah. Biasanya tiap 6.00 pagi gue udah habis seliter. Terus sampai jam 09.00 udah seliter lagi. Ini pasti gue bolak-balik ke toilet melulu. Nah biasanya jam 10.00 gue mulai aktivitas ke luar rumah tuh, jadi dari jam 10.00 ke jam 14.00 gue minum dikit-dikit tiap haus. Udah tiga liter kan tuh. Sisanya dari jam 14.00 sampai malam jam 19.00 bisa mencapai seliter lagi, tapi di periode ini biasanya yang gue minun nggak cuma air putih aja, tapi juga teh, kopi, jus, yoghurt, dan sebagainya. Gue berhenti minum jam 19.00 karena jam 21.00 udah naik ke tempat tidur (meski biasanya tidurnya jam 23.00), biar ngga bolak-balik pipis. Kalo si Fel lain lagi, dia dulu jaraaaang banget minum air putih. Tapi baru-baru ini dia berusaha mengubah kebiasaannya. Kenapa?? Karena gue keceplosan ngomong sama dia, “Fel, kalo orang jarang minum air putih, dia bisa mati!” Langsung dia sekarang banyak minum! Hahaha maapin Mami yang ekstrem ini, Fel.

Pertanyaannya…. kenapa di sini gue cuma nulis tentang gue dan Fel aja? Jawabannya: karena gue nggak tau gaya hidup suami kayak apa. Beliau pergi ke kantor jam 06.00 dan pulang lewat jam 22.00, jadi jujur gue nggak tahu dia makan apa, minum apa, olahraga apa, beraktivitas apa setiap harinya. Haha. Weekend dia sering kerja pula. Kalo ngga kerja saat weekend sih yaaa hidupnya kurang lebih sama kayak gue dan Fel. Bahkan suami hidupnya lebih nggak sehat sih, karena empat poin penyeimbang hidup yang terakhir itu nggak dia jalankan sama sekali.

Semoga gue bisa mewujudkan hidup kami yang lebih sehat yaaaa.. supaya kualitas hidup dan kuantitas usia makin panjang. Ibadah, kerja, dan hura-hura jadi lancar! Insya Allah.