20180110_153355

Isi Mobil Kami

Sebagai macan ternak, kendaraan adalah hal terpenting buat gue. Yaeyalah kalau nggak punya kendaraan dan anak gue naik mobil antar-jemput, gue bukan macan ternak namanya, cuma macan aja *apasih.

Gue bisa nyetir mobil di usia 14. Karena kompleks rumahku dahulu luas dan ramai, jadilah tiap sore tujuh hari dalam seminggu selama berbulan-bulan gue bolak-balik di seputar kompleks untuk ngelancarin nyetir. Akhirnya berani keluar kompleks ke mall terdekat. Kemudian mall terjauh. Jangan ditiru ya anak-anak. Jadi pas ulang tahun ke-17 gue nyetirnya udah lancar jaya.

Nah setelah 20 tahun nyetir mobil sendiri, pengalaman terheboh sebagai sopir cenculah nyetir bersama anak. Cuma mommy driver yang pernah nyetir sambil nyuapin, ngelapin muntah, ngomelin (oops!), nyanyi bareng, ngajak ngobrol, bukain bungkus snack, nusukin sedotan ke minuman UHT, tanya-jawab soal ulangan, gantiin baju, dan sejuta hal (membahayakan) lainnya. Karena gue hyperindependent (if there’s such thing), begitu punya anak, dengan cepat gue membiasakan diri nyetir berdua anak. Pake carseat lah ya. Sejak masih bayi usia 2 bulanan sampai sekarang 7 tahun, Fel udah biasa duduk sendiri di mobil, all buckled up. Dia santai aja kalo harus diiket sabuk pengaman berjam-jam di jalanan. Dia nggak pernah loncat-loncat di mobil saat kendaraan melaju, dia nyadar diri kalo nggak duduk pake sabuk nanti Mami bisa ditangkap pak polisi.

Sejak Fel sekolah, gue pun alih (nambah, tepatnya) profesi sebagai sopirnya Fel. Dia sekolah mulai usia 14 bulan (sampai 36 bulan) di sebuah Baby Gym di mall. Umur 3,5 tahun Fel masuk kelas preschool di TK Nizamia Andalusia. Sekarang Fel kelas 1 SD (bukan di Nizamia ya), whewww time flies!

Ya sutralah, pokoknya sehari-hari kerjaan gue antara lain nganterin Fel. Tujuannya ya ke sekolah dan les, terapi di klinik tumbuh kembang (dulu sih, sekarang udah stop), jalan-jalan, cari hiburan, running errands, dan sebagainya.

Kendaraan sangat penting bagi kami karena dia nganter kami dari rumah ke titik A dan ke titik B dan ke titik C…. sampai kami kembali ke rumah. Karena kami tinggal di Jakarta yang lalu lintasnya adalah yang terburuk di seluruh dunia, maka di dalam kendaraan kami harus punya suplai segala kebutuhan penting.

Nah sekarang gue mau nyeritain benda apa aja yang ada di mobil kami… Kemudian pemirsa ngedumel, masya Allah intro sepanjang itu ternyata cuma mau ngedaftar barang yang ada di mobil.

20180110_153355

Salah satu dari kedua mobil di atas bukan milik kami, ehehe

Yang standar dan wajib ada di mobil tentu saja STNK, kotak P3K, ban serep, segitiga pengaman. Bah, kalau nggak ada gue bisa ditilang kalau ketangkap razia. Benda-benda penting lain mencakup koin, uang parkir dua ribuan, kartu e-money buat bayar tol dan parkir gedung, tisu, payung, dan bantal kecil. Jujur nggak ada sopir yang bisa survive di jalanan Jakarta tanpa itu semua, terutama koin, karena hanya Jakartalah (dan kota satelit di sekitarnya) kota di mana mobil tiap mau belok terpaksa ngasih koin Rp500.

Benda penting kebutuhan kami yang lain adalah minuman. Tiap mau pergi jauh (perjalanan 30 menit aja udah jauh buat gue) pasti gue masukin botol minuman di mobil. Kemudian permen, Fel nggak makan permen sih, tapi gue suka makan permen–kalo dipikir-pikir gue cuma makan permen di mobil deh. Ada juga minyak kayu putih, balsem, dan obat pusing. Ini penting kalau gue migren atau sakit perut pas nyetir, atau buat oles-oles kalau Fel sakit. Di mobil juga selalu ada sekotak CD lagu-lagu, flashdisk yang isinya lagu, dan mukenah. Oh ya, ada juga selimut tipis, buat anaknya kalau lagi kepingin manja-manja bobo selimutan di jalan.

Itulah sebagian benda yang ada di mobil gue. Selain semua itu, ada pula sejumlag benda yang kurang penting tapi entah kenapa gue simpan aja di mobil. Ada yang kepake cuma 1-2x dalam setahun, ada juga yang sering. Semuanya gue masukin ke pouch besar dan gue taruh di laci mobil. Jadi ngga berantakan, tapi kalau pouch-nya dibuka, wakwawww barangnya acakadul dan banyak banget.

Nah, isi pouchnya adalah sebagai berikut: semua kartu wahana permainan Fel, serep kunci rumah, name tag kantor lama gue (buat apa coba??), lipstik ijo dari Arab, bedak compact Pigeon punya Fel, sebotol kecil cologne Eskulin, kaos kaki gue, pulpen, hand lotion Bodyshop, dan tas kecil Fossil buat si Fel kalo dia memutuskan mau bawa ponselnya sendiri saat jalan-jalan–alias kalau tas gue penuh.

Yang terakhir adalah baju. Sejak anak gue bayi, gue selalu nyiapin pakaian dan perlengkapan dia dalam satu tas untuk ditaruh di bagasi. Ini berlaku sampai sekarang. Jadi di bagasi ada satu tas kecil yang isinya underwear, piyama, dress, sikat gigi, dan obat yang harus diminum tiap hari (Fel minum obat ADHD dan DMDD sehari sekali, tiap abis makan malam). Jadi seandainya kami mampir rumah eyang atau oma sampai malam dan mandi di sana, Fel punya serep baju dan bisa minum obatnya sebelum pulang (dan ketiduran di mobil sampai pagi). Sebenernya gue lagi menimbang-nimbang perlu atau nggak ya naruh tas baju di mobil, karena toh di rumah eyang atau oma Fel pasti punya stok baju… alhasil kadang kalau kami cek, baju-baju di eyang atau oma udah pada kekecilan karena cuma buat jaga-jaga aja, dan nggak pernah kepake karena kami selalu bawa baju sendiri.

Sekian cerita nggak penting tentang isi mobil kami. Kapan-kapan gue ceritain tentang isi kulkas gue ya, haha dan kemudian pemirsa kaburrrr…